Liburan panjang minggu ini, dihabiskan untuk mengedit kumpulan rekaman acara perpisahan murid di sekolahan dimana ibuku bekerja. Sebenarnya sudah lama ibuku meminta untuk memindahkan rekaman di camcoder ke dalam CD. Pekerjaan yang mudah, karena tinggal di transfer dan di copy ke dalam CD. Tapiii, seperti biasa, selalu gatel tangan ini kalo hasil rekaman yang masih sifatnya puzzle itu langsung di copy ke CD. Ngga cantik dan ngga indah. Ibuku memang tahu kelemahannku. Ngga bisa lihat sesuatu yang berantakan. Meski ibuku harus menunggu dengan sabar, karena seperti biasa, kalo untuk mengedit rekaman, aku baru mau mengerjakan bila mood ku bagus dan aku tidak dalam keadaan lelah.

Walhasil dua hari ini ngebut unruk beresin rekamannya. Berhubung bukan saya yang merekam, alhasil jadi lama mengerjakannya. Karena banyak gambar yang harus di potong, supaya sesuai dengan cerita yang ingin disampaikan. Lelah rasanya mata ini karena harus selalu menatap layar komputer dan ditambah pegal badan. Belum lagi ditambah dengan sering hang nya komputer karena memori yang tidak mencukupi (masih 1 giga).

Ada yang menarik dalam proses editing kali ini. Ini adalah rekaman pesta perpisahan untuk siswa berkebutuhan khusus. Siswa ini termasuk dalam kategori sekolah luar biasa bagian D. Sebenernya bagian D itu untuk tuna daksa. Bila kita melihat logo sekolah adalah sepasang anak (laki dan perempuan) yang menggunakan kruk (tongkat penyangga). Tapi kebanyakan murid-murid yang bersekolah disini datang dengan lebih dari satu kebutuhan khusus. Yang pasti untuk anak tuna netra atau tuna wicara atau tuna grahita tidak akan bersekolah disini. Paling banyak yang bersekolah disini adalah anak-anak yang menderita CP (celebral palsy).

Dengan segala keterbatasan yang ada di diri mereka, mereka tetap belajar. Dibalik (kadang) kesulitan mereka untuk mengedalikan tubuh mereka, mereka masih bisa tersenyum dan tertawa. Ini adalah pesta perpisahan dimana pesta ini harus menunggu lama mengingat murid yang lulus pun dapatdihitung dengan jari.

Ini adalah pesta perpisahan untuk tiga angkatan untuk tingkat SD, SMP dan SMA. Beberapa dari murid-murid itu (dan ini dapat dihitung dengan cukup menggunakan jari-jari di satu tangan saja) masuk ke dalam sekolah inklusi. Selebihnya, akan melanjutkan pendidikan di tempat yang sama.

Saya terharu, begitu mendengar pidato perpisahan dari perwakilan murid. Dengan terbata-bata mengucapkan kata-kata, ucapan terimakasih atas dukungan guru dan orang tua keluar dari mulutnya. Dengan susah payah melafalkan kalimat demi kalimat, ucapan penyemangat untuk adik-adik kelas pun terluncur. Tiba saat murid-murid maju ke depan panggung untuk diberi salam dan selamat, beberapa diantaranya pun menangis haru. Entahlah, seringkali acara perpisahan memang bisa berpotensi untuk membuat seseorang menangis.

—–

Saya selalu ingat, ketika saya menyelesaikan SD, SMP, SMA dan kuliah, saya selalu berpikir, akan seperti apakah saya kelak.

Cemaskah? Tentu saja, kadang perasaan itu datang. Saya selalu cemas bila saya tidak bisa menikmati hidup yang diberikan kepada saya dan membebani orang lain.

Optimis? Iya, tentu saja optimis. Karena saya selalu percaya janji Tuhan, dimana nasib seseorang atau suatu kaum tergantung seberapa besar seseorang itu mau berubah.

Lalu, cemaskan anak-anak yang berkebutuhan khusus tentang masa depan mereka sendiri?

Dan, saya pun terpikirkan sesuatu. Mereka yang punya keterbatasan masih punya semangat untuk datang pagi-pagi, belajar dan sekaligus bersosialisasi. Tapi, saya masih melihat, orang-orang yang sehat fisik malah sengaja merusak fisik mereka ataupun orang lain, yang pada akhirnya pelan-pelan merusak psikis mereka. Mengabaikan segala berkah dan karunia yang diberikan.

Disisa kehidupan saya ini, sudahkah saya menjaga berkah dan karunia yang diberikan oleh Tuhan?